Aug 19, 2009

Menjadi Tiga

Satu

Dua

dan kini Tiga

 

Tapi mungkin tiga sama dengan satu dan dua

Ataukah satu ditambah dua sama dengan tiga?

Haruskah Tiga muncul setelah Satu dan Dua?

Ataukah Tiga adalah Tiga?

 

Tiga ini adalah Tiga milikku yang pertama

Aku tak pernah kenal dengan Satu dan Dua itu

Kau lah yang tapaki Satu dan Dua

Tak ada aku di sana

Lalu kini sampailah kau pada Tiga

 

Tiga yang tertatih menjadi Tiga

Entah apakah hanya Tiga

Ataukah muncul Empat Lima

Bahkan kembali pada Nol

 

Sudah kulewatkan Satu milikku dulu

Dan kini kujalani Satu yang lain

Berharap untuk menjadi Dua bahkan Tiga

Tapi tetap Satu yang kumiliki

 

Andai saja bisa kutukarkan Satu milikku

Jadikan Ia Tiga milikmu

Tentu aku bisa melangkah menjadi Tiga

Dan kau pun bisa memulai ulang pada Satu

 

Andai saja bisa kuberikan Satu milikku

Dan kau tinggal menambahkan Dua

Karena kau lebih menyukai Satu milikku

Seperti halnya aku menginginkan Tiga

Seperti halnya kau menginginkan Satu

 

Hanya saja ingat, ini adalah Satu yang berbeda

Ini adalah Satu milikku, yang kujalani

Seperti juga Tiga milikmu, yang kau jalani

Semoga Kau cepat rampungkan Tiga itu

Seperti halnya aku rengkuh Dua dan lalu Tiga

Mungkin setelah itu kita bisa tertawa bersama

Memeluk Tiga – Tiga milik kita

 

May 31, 2009

Fed Up

Titik titik ini semakin menumpuk.

Perlahan membentuk garis dan garis dan garis dan garis dan garis

Hingga menjadi bentuk

Lalu kembali merangkai diri dan membentuk garis dan garis dan garis

Terus berulang

 

Waktu terasa berbaur dengan segala tetek bengek. Tercampur peluh dan senyum. Terhimpit dateline dan juga laporan. Terengah mengejar pesawat dan juga memimpikan tidur nyenyak. Bersiasat mengakali email datang bertubi-tubi hingga invisible mode on. Berselancar di facebook di sela deretan guideline. Tertawa bergosip bersama klien namun juga berharap cemas akan hasil presentasi. Berputar di antara angka dan tenggelam di deretan huruf.  Berbaur dengan responden serta menjelajahi ranah asing.

 

Hanya saja kini semua itu tak lagi menyenangkan

Miskin arti dan hampa rasa

Tak ada penghargaan barang sekedar ucapan ‘good job’

Memangkas kreativitas dan mengekang pembelajaran

Tanpa kesempatan berkembang

Dan minim kepercayaan

 

Apakah sudah waktunya pergi?  

Atau saya terlalu banyak berharap?

Titik titik ini kian menumpuk

Titik menjadi garis

Garis menjadi huruf

Huruf membentuk kata

M   U   A   K

 

-Ah…I’m talking too much without meaning-

Feb 4, 2009

ITU INI ITU

Maaf, sudikah Anda mengangkat ITU barang sekejap saja?

Hingga  saya ada waktu untuk bernafas dan meregangkan tubuh. Sudah terlalu lama saya membawa ITU kemana pun saya pergi. Tak pernah lepas barang sedetik. Ketika bekerja, makan, mandi, chatting, menonton film, hingga saya terlelap. ITU selalu ada. Bahkan dalam alam tak nyata pun saya masih saja membawanya. Seperti punuk yang menempel di punggung saja IA.

 

Duh, ITU terlalu beratkah untuk Anda?

Padahal saya selalu membawanya. Tak pernah terpikirkan kata BERAT dapat diasosiasikan dengan ITU. Saya membawanya karena ya saya memang harus membawanya. Tak ada pilihan lain. Tak ada orang lain yang bersedia membawa ITU. Tak terasa lagi betapa ITU menggelayut demikian erat di tubuh saya. Hati saya pun terbelit olehnya. BERAT bukanlah menjadi kata bagi saya. Ya tentu saja ITU sangatlah BERAT, tapi perlahan otot saya menjadi BIASA.

 

Apakah Anda sudah lelah membawakan ITU untuk saya sejenak?

Tentu saja tak pernah terbayangkan  oleh Anda betapa melelahkan dan menguras tenaganya ITU. Ketika ITU bersama Anda, semua energi dan kekuatan Anda akan disalurkan untuk IA. Tak lagi memedulikan yang lain semata agar ITU bisa terangkat oleh Anda. Mungkin ada saat-saat di mana Anda terseok membawanya, bahkan jatuh, namun Anda tetap harus membawa ITU. Karena ITU tak pernah bisa lepas dari Anda. Sejauh apapun Anda jatuh, separah apapun luka Anda, selelah apapun tubuh ANda, tetap saja ITU ada. Hingga lelah itu demikian jamak.

 

Entah sampai kapan saya akan membawa ITU.

Mungkin sampai ITU terkikis sedikit demi sedikit oleh kehidupan. Perlahan akan ada sosok lain yang bersedia mencuil sedikit ITU untuk dibawanya sendiri. Atau mungkin ada sosok lain yang mau bergotong royong membawa ITU. Saya pun bisa mengistirahatkan punggung yang pegal membawa ITU.  Mungkin saya dapat mengajari trik dan tips untuk menjadikan ITU lebih mudah bagi mereka. Mungkin  ITU ada waktu kadaluarsanya dan IA tewas begitu saja, menghilang bersama angin. Mungkin saya akan merindukan ITU ketika IA terlepas dari saya, entah kapan. Mungkin dan hanya mungkin.

 

Siapa yang bisa membantu Anda membawa ITU?

Saya tidak tahu. Terkadang ITU milik saya malah bertambah berat dengan kehadiran orang lain. Mencoba mengurangi beban ITU namun yang terjadi adalah ada anak-anak ITU menempel pada saya.  Sungguh, saya sudah cukup letih mengangkut ITU milik saya, tak perlu lagi menenteng ITU-ITU yang lain, atas nama kebersamaan. Saya masih kuat mengangkat ITU milik saya ketika IA tidak kawin dan beranak dengan ITU yang lain. Bukannya saya egois hanya mau dibantu tanpa membantu. Namun setidaknya berikan bantuan yang sepadan dengan apa yang saya berikan.

Belum lagi ada masa-masa ketika ITU menggelembung besar dan menambah massa yang IA miliki. Hingga ITU semakin BERAT sementara saya harus melompati jurang waktu untuk membuat IA kembali normal. Bagaimana jika akhirnya ITU terlalu berat untuk saya sandang, dan saya pun terjungkal dalam palung yang diciptakan waktu? Siapa yang akan menolong saya merangkak naik dari palung itu. Dengan tetap membawa ITU tentu saja.

 

Saya lelah. Anda juga tentu sudah lelah membawa ITU bukan?

Jadi, mari sini.

Kembalikan ITU milik saya.

Biarkan saya berkubang dalam kelelahan yang berat namun biasa ini.

Dec 18, 2008

Bukan Bosan

Saya bosan.
Tapi tidak bisa berkata bosan. Karena kebosanan dapat mengundang jenis kebosanan lain yang lebih luas dan parah. Hingga akhirnya akan muncul anak cucu bosan yang perlente dengan segala aksesorinya. Ramai, mencolok, dan menyakitkan. Sibuk menarik perhatian dengan semua jari tertuding pada si bosan tadi. Sumber segala masalah.

Saya bosan.
Tapi bosan ini mudah-mudahan hanya bosan tak berbahaya. Yang mengendap diam-diam di sudut kamar, terpekur memandangi kehampaan. Bosan yang hanya membutuhkan kawan, untuk bercakap riang dan bermimpi. Bukannya bersengketa dan memperumit masalah. Bosan yang hanya gelembung kecil tak bersumbu. Bukannya tumbuh menjadi bom waktu dengan sumbu pendek yang mudah tersulut. Sungguh, menjaga metamorfosis kebosanan sangatlah melelahkan.

Saya bosan.
Namun ingat, yang dituangkan dalam tulisan ini adalah bukan mengenai kebosanan. Karena kebosanan adalah thing that should not been named. Kebosanan harusnya tidak hidup, mati sajalah, hingga tidak mengganggu entitas lain yang lebih berharga. Dipendam jauh di dasar hati hingga bahkan Jules Verne pun tak akan pernah menemukannya. Yah apalah artinya sebuah kebosanan?

Jadi harus saya apakan kebosanan tak bernama ini?

Dec 8, 2008

Memenggal Pagi

Re, pagi lagi-lagi datang.

Malam kita berakhir sudah. Dingin menyergap ketika pelukanmu terurai. Merenggut hangat yang kukumpulkan detik demi detik malam kemarin. Perlahan tapak jiwamu menjauh, kembali pada titik keberadaan yang selalu terpisah. Adakah renik batinku masih lekat padamu? Ataukah ia sudah memburai terkena matahari? Hingga kapan pagi demi pagi terus pisahkan kita? Secercah demi secercah matahari perlahan membunuh kebersamaan kita.

Re, aku benci pagi.

Karena kau harus pergi ketika pagi menjelang. Kita berlompatan di antara dua waktu. Menyongsong pagi berarti tinggalkan waktu milik kita. Dan kita pun kembali pada dunia hitam putih. Ketika nyata tak lagi bertaburkan renjana. Dan hanya tempat tidur kosong di sini.Tanpa hangat badanmu dan aroma dirimu menemaniku. Yang ada hanyalah kekosongan tanpa warna.

Re, tinggallah bersamaku pagi ini.

Berapa banyak pagi sempat kita bagi? Di tengah jeratan rutinitas dan jarak demikian rumit. Hanya sekelumit pagi yang kita pernah cicipi berdua. Berpura-pura matahari masihlah bulan. Bergelung di antara selimut tebal, enggan beranjak dan kembali pada dunia. Lewatkan sarapan pagi, hanya untuk menyantap cinta kita. Ciptakan dunia hanya milik kita berdua. Dan pagi pun kembali menjelma malam.

Re, aku ingin malamku.

Hanya dalam gelapnya malam bersamamu kutemukan warna. Gemerlap silih berganti hiasi perpaduan kita. Tak terhitung warna berlompatan dalam arus gairah kita. Hingga akhirnya malam pun tak hanya pekat. Tertidur dalam pelukmu adalah candu. Membiusku dalam nyenyak yang penuh. Dan pada malam seperti itulah, aku semakin benci saat pagi mengetuk kesadaran kita.

Re, mari kita penggal pagi.

Hilangkan Ia dari waktu kita. Hingga hanya malam demi malam terajut menjadi satu. Sesekali senja menyelusup masuk, berbagi jingga dan semburat akhir hari. Namun malam tanpa pagi adalah hari tak berawal dan juga tak berakhir. Karena ada kau di sana. Menemani malamku.

Jadi, maukah kau membantuku memenggal pagi, Re?

 

Dec 1, 2008

Uncertainty

Ketidakjelasan yang semakin jelas
Mengambang di udara
Sesakkan nafas dan kabutkan pikiran
Serasa tergantung pada tali rapuh
Menunggu terjatuh pada lubang gelap menganga
Berjalan di atas bara api
Sekejap menghangatkan namun juga membakar
Di antara proyeksi demikian gemilang
Namun masa depan begitu suram

Ah well...mari memperjelas ketidakjelasan yang jelas ini
Get over with it, will you?

P.S. No, it is not a love story, but a professional babble of mind

Nov 30, 2008

Twilight

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Twilight
Directed by : Catherine Hardwicke
Writers : Melissa Rosenberg (screenplay)
: Stephenie Meyer (Novel)
Cast : Kristen Stewart, Robert Pattinson, Billy Burke, Ashley Greene, Cam Gigandet, Taylor Lautner
Duration : 122 min



Maybe this is one of rare novel adapted movies without too much change than its novel.

Sebagai movies and book lover, saya cukup terkejut menyaksikan prolog film ini sama persis dengan prolog novelnya. Dengan alur yang terkesan agak lambat, saya bagaikan membaca ulang novel twilight, dengan suguhan visual yang cukup memanjakan mata. Beberapa adegannya sesuai dengan apa yang saya imajinasikan ketika membaca novelnya, walau tentu saja, ada beberapa adegan yang agak berubah.

Isabella Swan, atau Bella (Kristen Stewart) , adalah seorang gadis yang canggung dan agak sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Ketika Bella terpaksa pindah untuk tinggal bersama ayahnya, Charlie Swan (Billie Burke) di sebuah kota kecil, Forks, Washington, dia tak menyangka bahwa hidupnya akan berubah sangat drastic.

Edward : I only said it would be better if we weren’t friends, not thatI didn’t want to be
Bella : What does that mean?
Edward : It means, if you’re smart….you’ll stay away from me.
Bella : Okay, let’s say for argument’s sake that I’m not smart.


Di rainy Forks inilah, Bella bertemu dengan Edward Cullen (Robert Pattinson) dan keempat saudara angkatnya, Emmet (Kellan Lutz), Rosalie (Nikki Reed), Jasper (Jackson Rathbone), dan Alice (Ashley Greene) yang merupakan pendatang baru di Forks, sama seperti Bella. Dengan kulitnya yang pucat, ketampanan memukau,dan mata tajam bak elang, Edward menarik perhatian Bella. Kisah Bella dan Edward pada awalnya terkesan bagaikan cerita roman lama, di mana sang hero dan heroine berusaha saling menjauh demi kebaikan masing-masing, namun takdir ternyata mengikat mereka berdua.

Bella : How old are you?
Edward : Seventeen
Bella : How long have you been seventeen?
Edward : …..A while



Kisah cinta Bella dan Edward adalah kisah cinta terlarang. Edward ternyata menyimpan rahasia kelam yang dapat membahayakan Bella. Tapi Bella tak peduli bahwa Edward memiliki kekuatan melebihi manusia biasa, lari secepat kilat, mampu membaca pikiran, dan Edward telah berusia 17 tahun entah untuk berapa lama. Karena Edward adalah vampire, dan tentu saja dia abadi. Walaupun vampire, Edward adalah vampire ‘vegetarian’ yaitu vampire yang bertahan hidup dengan meminum darah binatang dan tidak berburu manusia. Sedangkan Bella adalah manusia biasa.

Edward : And so the lion fell in love with the lamb
Bella : What a stupid lamb
Edward : What a sick, masochistic lion.


Tapi tak peduli akan perbedaan mereka, Bella dan Edward jatuh cinta. Setelah beberapa saat Bella dan Edward berusaha menghindari takdir masing-masing, akhirnya mereka mengakui perasaan mereka. Dan sejak itulah mereka tak terpisahkan. Mereka tak peduli lagi ketika menjadi perhatian satu sekolah karena sebelum bertemu Bella, Edward tak pernah berkencan dengan siapa pun. Bella juga tak peduli bahwa keluarga Edward yang lain adalah vampire dan belum bisa menerima seutuhnya bahwa dia adalah manusia yang jatuh cinta pada vampire, dan bahwa darah Bella memiliki keunikan tersendiri yang sangat mengundang bagi vampire. Bahkan Edward harus mati-matian menahan dirinya yang sangat tertarik dengan darah Bella dan menjaga agar Bella tetap selamat, dari dirinya maupun dari luar.

Edward : Are you afraid?
Bella : I’m only afraid of losing you.


Hanya saja, seperti kisah cinta lainnya, tentu saja ada aral melintang di depan mereka. Sekelompok vampire pemburu datang ke Forks setelah meninggalkan jejak pembunuhan di belakang mereka dan bertemu dengan Bella. Darah Bella yang unik dan perlindungan yang diberikan oleh keluarga Cullen terhadap Bella, membuat Bella menjadi tantangan bagi mereka. Perburuan Bella pun dimulai. Apakah Edward dapat menyelamatkan Bella? Lalu bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya?

Bella : Everybody’s staring
Edward : Not tha guy. No, he just looked. Breaking all the rules now anyway
Edward : Since I’m going to hell.


Okay, now the critics. Pada awal film, ketika saya sedang harap make up para vampire terkesan sangat pucat dan tidak natural. Namun seiiring alur film, perlahan-lahan para vampire menjadi semakin natural. Visualisasi akan keluarga Cullen memang tidak seindah bayangan saya. Aura vampire dan pemangsa, dimana segala yang ada dalam diri vampire: wajah, tubuh, suara, bahkan aroma, yang semestinya sangat menarik, ternyata tidak terlalu terlihat mengundang. Memang, para keluarga Cullen ini tampan dan cantik, but not vampire enough. Justru James (Cam Gigandet) yang sangat keren dan cool, cocok sekali sebagai vampire pemburu yang kejam. Oh ya, entah mengapa ayah angkat Cullen bersaudara, Dr. Carlisle Cullen (Peter Facinelli) terlihat sangat mirip dengan Tom Cruise, sedangkan James mengingatkan saya akan Brad Pitt di film Legend of the Fall, macho dan sangat maskulin, dengan aura kejam yang begitu terasa.

Acting dari Bella dan Edward pun pada awalnya terkesan kaku. Chemistry di antara mereka berdua tidak terlalu terlihat pada awalnya. Belum lagi gaya Bella yang kadang terlihat seperti gadis bodoh, bukannya mengesankan gadis yang canggung. Edward yang semestinya terlihat cool juga kadang terlihat agak aneh. Perubahan emosi Bella dan Edward, dari saling menjauhi dan akhirnya jatuh cinta juga kurang terlihat, sehingga terkesan bahwa tiba-tiba saja Bella dan Edward saling jatuh cinta, tanpa tahu mengapa. Memang, ketika mereka sudah menjadi pasangan, aura cinta begitu menyelimuti mereka dan menyamarkan pertanyaan di benak mengapa mereka bisa saling jatuh cinta sedemikian dalam.

Ada satu kekecewaan saya di sini. Adegan ketika Edward terekspose oleh sinar matahari semestinya menjadi adegan yang menunjukkan keindahan Edward, dengan kulit yang bersinar bak permata. Saya sangat ingat bahwa di novel, adegan ini lah yang sangat sangat romantis, di mana Edward menunjukkan betapa berbeda, dan betapa indahnya, dia. Di sini pula Edward dan Bella mengeksplorasi cinta mereka dan menyadari betapa berharganya masing-masing. Sayang sekali adegan ini hanya sedikit ditampilkan dalam film, dan penampilan Edward dengan kilauan matahari agak terlihat aneh. Memang, film ini juga menambahkan beberapa adegan yang diharapkan cukup romantis, seperti ketika Edward membawa Bella ke puncak pohon dan menyaksikan pemandangan danau terbentang di bawah mereka, atau adegan kissing di tempat tidur dilanjutkan dengan Edward menemani Bella hingga tertidur. Yup...tak dapat dipungkiri bahwa adegan-adegan itu sangat romantis, tapi ’feel’ kedekatan mereka masih kurang tereksplore.

Inilah film dan novel vampire yang romantis namun tidak bergaya gothic. Adegan percintaan yang indah mewarnai film ini. Tentu saja, ada beberapa adegan yang tidak ada dalam novelnya, namun dapat masuk dengan pas dalam nuansa ke-vampire-an. Beberapa adegan dalam novel pun diubah urutannya, mungkin for the sake of time sehingga tidak terlalu lama. Namun adegan-adegan penting, seperti baseball di tengah hujan petir, sungguh sesuai dengan bayangan. Diselipkan pula humor-humor segar yang semakin membuai penonton sehingga membuat film ini semakin menarik.

Salah satu kekurangan dalam novelnya yang saya rasa agak mengganggu adalah adegan klimaks ketika James hendak membunuh Bella di studio balet. Dalam novel, tidak terlalu digambarkan bagaimana Bella selamat, dan bagaimana pertarungan antara Edward dan James. Adegan terlalu cepat loncat ketika Bella sudah di rumah sakit. Tapi jangan khawair, di filmnya, adegan klimaks ini ditampilkan dengan lengkap. Kita bisa menikmati pertarungan James dan Edward sepenuhnya. Keren!

Overall, film ini sangat sesuai dengan novelnya, walaupun tentu saja tidak ada kedalaman cerita layaknya pada novel seperti kisah bagaiamana Edward dan keluarga Cullen lainnya menjadi vampire, kaitan antara James sang pemburu dengan Alice, hubungan antara Bella dan teman-teman sekolahnya, dll. Konsistensi cerita pun terjaga cukup rapi sehingga orang yang tidak membaca novelnya pun masih dapat menikmati dan terhanyut oleh flm ini. Saya cukup puas menontonnya, dan tak sabar menunggu kelanjutan Twilight: New Moon. Hmm...kapan ya?

P.S. Perhatikan mata Edward yang berubah warna setiap kali sedang emosi. So cute ^^