Showing posts with label bukanpuisi. Show all posts
Showing posts with label bukanpuisi. Show all posts

Dec 3, 2009

Abandoned Path

Jalan itu masih ada

Terbengkalai tanpa kau menapakinya

Begitu banyak sampah

Semak belukar kembali menguasainya

Matahari tak lagi menyeruak masuk hangatkan pejalan kaki

Yang ada kekosongan

Dan arah yang tak mengarah

 

Sudah kuingatkan tentang jalan itu

Sudah kuberikan segalanya

Agar kau tapaki lagi jalan itu

Jalan yang kau pilih untuk kau lewati

Tapi tak kau inginkan

Hingga akhirnya ia tak lagi menjadi jalan

Hanya sepetak ruas tak bernama

Dan harapan yang lenyap

 

Saya sudah menyerah

Tak akan lagi kuminta kau kunjungi jalan itu

Bila memang hatimu tidak di sana

Biarlah kubangun jalanku sendiri

Dan kau miliki jalanmu sendiri

 

# Mungkin alam memang berkonspirasi untuk mengambil kembali jalan itu

   Seperti halnya dulu alam berkonspirasi untuk menyatukan kita

Aug 19, 2009

Menjadi Tiga

Satu

Dua

dan kini Tiga

 

Tapi mungkin tiga sama dengan satu dan dua

Ataukah satu ditambah dua sama dengan tiga?

Haruskah Tiga muncul setelah Satu dan Dua?

Ataukah Tiga adalah Tiga?

 

Tiga ini adalah Tiga milikku yang pertama

Aku tak pernah kenal dengan Satu dan Dua itu

Kau lah yang tapaki Satu dan Dua

Tak ada aku di sana

Lalu kini sampailah kau pada Tiga

 

Tiga yang tertatih menjadi Tiga

Entah apakah hanya Tiga

Ataukah muncul Empat Lima

Bahkan kembali pada Nol

 

Sudah kulewatkan Satu milikku dulu

Dan kini kujalani Satu yang lain

Berharap untuk menjadi Dua bahkan Tiga

Tapi tetap Satu yang kumiliki

 

Andai saja bisa kutukarkan Satu milikku

Jadikan Ia Tiga milikmu

Tentu aku bisa melangkah menjadi Tiga

Dan kau pun bisa memulai ulang pada Satu

 

Andai saja bisa kuberikan Satu milikku

Dan kau tinggal menambahkan Dua

Karena kau lebih menyukai Satu milikku

Seperti halnya aku menginginkan Tiga

Seperti halnya kau menginginkan Satu

 

Hanya saja ingat, ini adalah Satu yang berbeda

Ini adalah Satu milikku, yang kujalani

Seperti juga Tiga milikmu, yang kau jalani

Semoga Kau cepat rampungkan Tiga itu

Seperti halnya aku rengkuh Dua dan lalu Tiga

Mungkin setelah itu kita bisa tertawa bersama

Memeluk Tiga – Tiga milik kita

 

Dec 27, 2007

Jejak Tubuh

Aku benci melihat alur jejak orang lain di tubuhmu.

“Bagaimana kau bisa melihatnya?” tanyamu.

Bagaimana bisa aku tak melihatnya? Jejak itu tertera jelas di mataku. Tidak, itu bukan jejak diriku yang haus jelajahi tubuhmu. Melainkan alur tertinggalkan oleh sosok asing. Partikel diriku musnah tertindas renik sesuatu yang lain. Keberadaannya lahap rindu tumbuh terlambat. Jejakku belum lagi mendingin ketika kau sambut kehangatan lain. Sementara beku masih mencengkramku erat.  Tak ada kau yang nyalakan gairah demikian panas.

Aku benci mencium aroma asing di tubuhmu.

“Wangi apa yang kau cium?” tanyamu.

Bukan aroma cinta kita yang kuhidu dari tubuhmu. Melainkan jarak begitu pekat. Terasa kepahitan akan waktu berbeda yang pisahkan kita. Saat ini hanya kucium sayup wangi keberadaan asing. Tak ada lagi gelora nafas berpadu hantarkan perpenuhan. Hanya samar euforia tertinggal. Bersama dekap asa yang terpisah. Masa terlewat begitu cepat, tenggelamkan kau dalam wangi berbeda yang tak kusuka. Dan aku masih saja mencari sisa keharuman tubuhmu dalam mimpiku.

Aku benci mengecap rasa yang lain di tubuhmu.

”Rasa apa yang kau rindu?” tanyamu.

Tidakkah kau rasa kesemuan mengambang di udara setelah usai percintaanmu? Tidakkah kau rindu manis percampuran kau dan aku? Kala tubuh kita masih menari, rasa dirimu adalah ambrosia pemacu hasrat. Berebut kuasai benak dengan berbagai sensasi menghanyutkan. Namun hanya getir yang kusesap keberadaannya kini. Masih dapatkah kau kecap rasa diriku, ketika beragam rasa berlomba serbu inderamu? 

Aku benci merasakan sentuhan tak bermakna.

”Makna apa yang kau cari?” tanyamu.

Keterikatan kita sudah lerai. Namun makna masih mengendap dalam jiwa. Kusimpan baik-baik fragmen kisah kita. Kini ia sudah reda memagut keberadaan. Namun lembut belaimu tetap terkenang. Menjadi peneman sepi kala lelap sendiri. Tak lagi kau tinggalkan lekuk di bantal di sampingku. Pun kecupan sarat oleh cinta. Hanya ada deretan kenikmatan kosong yang kau kejar tak tentu arah. Sungguh, kekosongan ini tak akan bisa terpenuhi.

Aku benci melihat tatapan tak berjiwa.

”Jiwa siapa yang ingin kau lihat?” tanyamu.

Bukankah dulu dapat kulihat pantulan jiwamu? Berkilau lembut dalam binar matamu. Terjerat aku dalam pesonanya. Pandangan itu selalu temani kebersamaan kita. Bersama hentakan rasa demikian tinggi. Merebut akal dan terbitkan candu.  Dalam deras percumbuan, dapatkah kau rasa jiwa kita bercinta kala tatap berpadu? Getar-getar indah merasuk kalbu. Sekarang jiwa siapa yang tercermin di matamu, ketika kau hanyut dalam episode-episode sesaatmu. Aku merindu jiwamu, tahukah kau?

Aku benci terperangkap di antara setengah.

”Lalu apa yang kau mau?” tanyamu.

Tak ada. Karena usai telah miliki kita.

”Tapi aku masih mencintaimu.” katamu.

Ya.
Bukankah kau bilang aku memiliki hatimu, bukan tubuhmu.
Lalu apa arti cinta itu?

Oct 8, 2007

Menunggu Hujan

Engkaukah yang datang bersama hujan ini?

Gerimis selalu sertai hadirmu. Seperti waktu-waktu lalu. Ingatkah kau pada masa hujan kerap basahi bumi? Kita larut menjalin asa. Percakapan di sela gemuruh petir. Bisikan di antara desau angin. Bercumbu kala jarum-jarum air menghujam. Temaram begitu memabukkan. Seperti keberadaanmu, lelaki hujanku.

 ” Sepertinya hujan mencintaimu.”  
” Sungguh? Seperti apakah cinta hujan itu?”
” Seperti cintaku.”
” Kalau begitu cintamu begitu dingin.”
” Maka hangatkanlah dengan cintamu.”

 Engkaukah yang datang bersama hujan ini?

Terasa rindu tak asing. Begitu akrab seperti harum tanah tertimpa percik hujan pertama. Tempias yang basahi relung hati. Ingatan berkeletik memburu fragmen kenangmu. Biarkan pecahan dirimu merasuk dalam batinku. Singgahi semua ruang bertera namamu.  Kuyup aku di tengah hujan ini.  Hujankah yang mengejarmu ataukah kau yang mencari hujan?

 ” Kau rindu hujan?”
” Ya. Seperti aku merindumu.”
” Cintailah hujan itu.”
” Seperti aku mencintaimu?”
” Ya. Seliar kau bersamaku.”

Engkaukah yang datang bersama hujan ini?

Kemari. Lama sudah tak kau cecap sisa hujan di bibirku. Pun tak pernah lagi kususuri jejak air di tubuhmu. Hujan kini begitu sepi. Ingin kuresapi basah hujanmu. Gigil mendekap sukma. Namun kering ini demikian membara. Rasakan butuhku. Gelisah tak tertahankan akan hujan. Terik berkepanjangan hingga meranggaskan asa. Kemaraumu menyiksaku, duhai lelaki hujanku.

”Apakah kau begitu menanti hujan?”
” Ya. Tentu saja.”
” Mengapa?”
“ Karena hujan bawakan dirimu.”
“ Akankah terus kau cari?”
“ Ya. “
“Ke mana?”
” Ke mana pun hujan meneteskan keberadaanmu.”

Engkaukah yang datang bersama hujan ini?

Aku masih menanti hujan.  Tapi tak ada kau di ujung rintiknya. Aku tak dapat meraihmu di balik tirainya. Berbisik cinta berbuih gairah. Pelukmu pun memudar seiring tetesan terakhir hujan. Tak lagi kutemui senyummu terpantul di genangan air. Tak kudapatkan sosokmu menari di bawah rinai hujan. Dirimu menghilang tinggalkan pilu. Duhai lelaki hujanku, cinta kini terburai dalam kemarau. Apakah kini kau berwujud kemarau demikian gersang?

 ” Aku bukan hujan.”
” Aku tahu itu.”
” Aku tak dapat selalu basahi kemaraumu.”
” Kemarau itu kau yang ciptakan.”
” Tapi aku bukanlah deras yang kau damba.”
” Lalu apakah kau?”
” Aku adalah musim yang salah. ”

Engkaukah yang datang bersama hujan ini?
Ataukah harus kunanti,
Hingga nanti langit berkenan hujankan adamu.
Lagi.

Sep 12, 2007

Prelude Sepi

Pernahkah sepi menjamahmu?
Ketika ramai tengah berkerumun
Sendiri akut gerogoti adamu
Setengah ingin lari
Setengah berbaur percuma
Tenggelam di antara asing
Melebur jadi senyap
Rancu terbilas bising
Keriuhan begitu penat
Namun juga sangat hening

:: Sesat itu tak lagi bahagia

Sep 11, 2007

Journey

Jadi inilah perhentian waktu kita

Dan pencarian pun kembali dimulai
Jalan terjal penuh cobaan
Liku kehidupan tak terduga arah
Di antara titik cahaya tawarkan kehangatan
Juga pelukan penghibur sepi hati
Atau tawa mengundang ceria yang terlupa

Tapi pengembaraan ini belum juga usai
Berharap untuk pulang
Dan tinggal

 
# Lalu mengapa masih ada sekelumit pedih itu?

May 13, 2007

See me



Can you see me?
See it past your frozen in time mind


May 3, 2007

Notification


Can u notice that?
I am not the same person I was, when you know me.
I am somewhat different.

Can u notice that?
I am not stuck in the past, of our past.
I am trying to move on.

Can u notice that?
This line is too severe.
Unrepairable.
And we hunger to be separate.

Can u notice that?
This circle is too tight.
Suffoticating.
And we always bump to each other



Just

Cut

The

Crap

Out

of

My

Life

please...



Notification


Can u notice that?
I am not the same person I was, when you know me.
I am somewhat different.

Can u notice that?
I am not stuck in the past, of our past.
I am trying to move on.

Can u notice that?
This line is too severe.
Unrepairable.
And we hunger to be separate.

Can u notice that?
This circle is too tight.
Suffoticating.
And we always bump to each other



Just

Cut

The

Crap

Out

of

My

Life

please...



Notification


Can u notice that?
I am not the same person I was, when you know me.
I am somewhat different.

Can u notice that?
I am not stuck in the past, of our past.
I am trying to move on.

Can u notice that?
This line is too severe.
Unrepairable.
And we hunger to be separate.

Can u notice that?
This circle is too tight.
Suffoticating.
And we always bump to each other



Just

Cut

The

Crap

Out

of

My

Life

please...



Apr 15, 2007

Lost

Mencari jalan
Pada jalur tak berarah
Terlalu sesat
Untuk kembali

Fix Me










Can’t you
see?
I’ve lost
your presence
And I’ve
lost my path too

This
belonging feeling
Just
evaporated
Out to
the nothingness
Sink
deeper and deeper
To
nowhere land
Without
any light
To guide
me home
But light
is futile
When you
don’t have
The place
you called home



















Time
moves
But you
are still there
The ghost
in me
Don’t
fade
Lurking
In the depth
of my soul
And I
lost
Once
again



 

Aug 14, 2006

Close the book [please]



Bagaimana
caranya menutup sebuah buku? Ketika kau tahu kau tak akan pernah
menyelesaikannya. Kau sudah tahu apa yang kau cari. Biarpun itu bukan berarti
kau sudah MENEMUKAN apa yang kau inginkan. Kau hanya tahu, ini adalah waktuya untuk
menutup buku.






Hanya saja buku itu tak juga menutup.
Angin terus bertiup, membuka
halaman demi halaman biarpun tanganmu tak lagi membaliknya. Lalu kau pun mulai
berpikir bagaimana caranya agar buku itu tak lagi terbuka oleh angin. Akan kau
bawa ke tempat dimana angin tak bertiup kencang. Tapi kau melupakan bahwa masih
banyak orang yang tahu bahwa kau masih memiliki buku tersebut. Mereka pun mulai
mencari dan membukanya. Kau sembunyikan dan ada orang-orang yang tak sengaja
menemukan, membukanya dan mengembalikannya padamu. Kau masih tak tega untuk
menguburnya. Atau membuangnya ke laut. Karena kau masih ingin buku itu ada
disampingmu. Hanya untuk tahu buku itu masihlah ada. Walaupun mungkin kau tak
akan mau membukanya lagi.






Pembatas
itu masih ada disitu. Membuatmu tahu pada halaman apa kau mulai menutup buku. Kau
takut mencabut pembatas buku dan membiarkan halaman membaur begitu saja. Karena
kau akan menghabiskan energi jiwamu jika kau membacanya dari awal lagi. Mungkin
apa yang tertulis di buku itu sudah terekam dalam ingatanmu. Tapi kau harus
membuka buku itu dari awal untuk mengetahui pada halaman keberapa kau berhenti
membaca. Terlalu berat dan membuang waktu jika kau harus mengulang dari awal.
Maka kau biarkan pembatas itu di situ.






Dan
tahukah kau bahwa buku itu adalah buku ajaib? Yang karakter-karakter di
dalamnya bisa menggunakan kekuatan mereka untuk membuka halaman demi halaman.
Yang ceritanya tak juga berakhir. Terus bersambung bagai kain Drupadi yang
ditarik Kurawa. Kau tahu kau tak akan pernah mengerti akhir dari cerita itu.
Namun buku itu terus menerus terbuka di luar keinginanmu.






Setiap kali buku itu terbuka, ada kutu kecil yang
melompat. Dia bukan kutu biasa, melainkan kutu penghisap darah. Tapi dia hanya
mau menghisap darahmu. Maka dia akan mencarimu. Entah kau berada di mana,
sedang melakukan apa, dengan siapa. Kutu itu selalu datang. Menggigit dan
menghisap darahmu. Kau akan selalu tahu kapan buku itu terbuka. Karena kutu itu
akan datang padamu.






Karena itulah. Kau semestinya segera tutup buku itu. Tak
membirkannya terbuka. Sebelum halaman-halaman tak juga berakhir itu terus
menerus membuka. Dan pasukan kutu menyerbumu. Hisap darahmu. Hingga pada titik
ketika kau tak lagi memiliki darah. Tapi bagaimana cara menutup buku tanpa
menghancurkannya?





Aug 1, 2006

Destiny



Destiny is choice


When we choose, we seal our destiny


We create our own path with our own hands



Every choice has its consequence


When we choose, we take the other side of the coin


Inseparable yet inevitable



You already choose


So if you want to make amend


You are the one who will come


Not I


For I already once




Is there a reason
why a broken heart begins to cry?
Is there a reason
you were lost although you don't know why?
Give me a reason
why you never want to say goodbye.
If there's a reason
I don't know why.



Enya – Somebody Said Goodbye




P.S. I lied. I do miss you.


Jul 30, 2006

Freedom



I am Freedom



Liberate


Carefree


May-devil-care


Reckless


Selfish


Rebel



But this is MY LIFE


And I BOUND to LIVE it


With MY OWN way



Jul 25, 2006

This Never Happened Before


I'm very sure, this never happened to me before
I met you and now I'm sure
This never happened before

Now I see, this is the way it's supposed to be
I met you and now I see
This is the way it should be

This is the way it should be, for lovers
They shouldn't go it alone
It's not so good when your on your own

So come to me, now we can be what we want to be
I love you and now I see
This is the way it should be
This is the way it should be





The lake house movie....romantic but kinda absurd. And this song really sweet. Just like you.


Thanks for being with me dear one. Thank you for loving me and that you are willing to be with me this far. You are a 'rare find' indeed -hugs-





Jul 23, 2006

Ask



.......
tanya hatimu
benarkah dirimu masih mencintai aku
bukankah dulu
kau mau menunggu pernyataan cinta dariku


tanya hasratmu
benarkah dirimu masih membutuhkan aku
bila tak berubah bicara padaku
kepastianlah yang ku tunggu


......


Just ask what your heart need to....


Jul 17, 2006

Come back


My demon just came back and said "Hi, how are you?"


and I said "Fine, thank you, and do me a favor: GO BACK TO HELL !!!"


Jul 5, 2006

Eradicate


Trying hard to speak and
Fighting with my weak hand
Driven to distraction
It's all part of the plan
When something is broken
and you try to fix it
Trying to repair it anyway you can


There is no turning way. Can not be repaired.


It is a total eradicate. Why everything is always ended like this? I just sick of it.



Dec 28, 2005

Lari


Telaah semua jerat yang lingkupi kita. Adakah masih kau lihat sisa sisa asa yang kutebarkan? Pengertian akan kerumitan yang tengah menghujani kita. Kini benang hidup itu mulai terangkai menjadi sebuah kurungan sempit. Aku terperangkap di dalam kotak berujung kematian. Menjadikan bara terserak tak mampu terbakar lagi. Padamkah sudah jalan ini?


Mari...lari bersamaku.


Menghilangkan segala batas yang mereka cipta. Sebelum kita dirundung oleh segala kesulitan berbuah kesinisan. Paranoid itu mungkin tak mampu hilang, tapi setidaknya kita redam sebagian. Bukankah jalan itu pernah terlewati dulu?


Ayo...larilah bersamaku. Sekarang!