Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Oct 29, 2012

Rindu yang Asing


Hey kamu! Ya kamu, orang yang tiba-tiba saja memunculkan rindu. Padahal sudah beribu malam kamu tak lagi mendiami benakku. Kamu hanya ingatan yang teronggok di sudut pikiran. Fragmen rasa yang terlupakan.

Tapi entah mengapa hari ini kamu muncul lagi. Bangkit dari alam kenangan. Membuatku rindu. Membuatku sendu. Membuatku ingin kembali mengenalmu, tidak hanya sekedar icon "friend" di dunia maya. Membuatku ingin menjadikanmu nyata, tak lagi hanya bayangan masa lalu.

Sudah berapa lama kita tak bercakap? Jangankan bertemu, berbicara pun tak pernah lagi. Ada beberapa momen dalam hidupku yang membuatku nyaris menggapaimu dari keterjauhan ini. Muncul keinginan sesaat untuk menautkan jalan hidup kita lagi. Setidaknya menjadikan kita kawan, bukan seorang asing. Tapi ingin hanyalah sekedar ingin, tanpa ada sentuhan nyata. Kamu dan aku benar sudah menjadi asing.

Rindu ini sporadis, dan entah darimana datangnya. Muncul bak hujan sesaat. Mungkin ada sepotong lagu yang mengingatkanku akan dirimu. Mungkin ada sekelebat momen yang mirip dengan yang pernah kita bagi.  Mungkin ada tanggal yang "keramat" bagimu. Seperti hari ini.

Satu hari ini biarlah aku merindumu. Rindu yang tulus dan tak lagi berembel cinta. Hanya sekedar rindu akan sesuatu yang telah hilang. Rindu akan asing.

Dec 22, 2011

Some Songs are (mirror of my) Life

Terkadang ketika mendengarkan satu lagu tertentu, ada keping-keping kenangan yang menyusup masuk tanpa diundang. Memicu ingatan yang lama terkubur, yang membuat saya heran karena saya masih mengingatnya walau sudah entah berapa banyak tahun terlewati. Memang ingatan manusia sangatlah hebat, masih menyimpan segala detil kejadian selama masa hidup, tapi semua itu tidak membuat kita gila, karena ingatan-ingatan itu hanya muncul ketika kita ingin mengingatnya atau ada sesuatu yang memicunya (seperti lagu-lagu tertentu). 

Ingatan yang muncul diam-diam itu seringkali membuat saya tersenyum getir, karena kebanyakan dari lagu-lagu itu membawa rasa pahit manis alias bittersweet.  Mungkin pada suatu masa, kejadian yang terkait dengan lagu itu membawa saya terbang ke awang-awang. Dunia terasa Indah dan lagu itu membuatnya sempurna. Tetapi dengan berlalunya waktu, rasa manis itu perlahan memudar. Dunia tak lagi sempurna. Saya kembali menginjak bumi. My rose tinted glassed sudah terangkat. Yang tersisa adalah kenangan dan rasa itu: bittersweet.

Dec 20, 2011

The Boy You Can Talk About Everything



But now, talking to you is a rare treat, especially during weekdays. We just go on our separated ways and lifes.

Do we can only talk when we meet face to face? It is hard when you are talking (read: chatting) with all other people but me (in the sake of your job, you say). I’m afraid this lack of communication just separates us furthermore, despite the distance that always be our obstacle. 

Now, it is a common occurrence for not talking at all during the day, even for just saying hello how are you? It is also very common to not knowing what you have done or feels each day. All the emotions, the stories, the life, just buried under and sometimes, when we are remember of that part of the day, we will talk about it during week end. But it is only during weekend.

I don’t want to feel complacent without you by my side. I don’t want to feel that I’m okay with or without you; because what we are for if we no longer need each other? Then we just two people who meet during weekend.

We only shared our weekend life, not our life.

Nov 24, 2011

Balon Merah Muda


Setiap kali melihat balon berwarna merah muda, saya selalu teringat kamu. Padahal kamu paling benci dengan warna merah muda. Warna ambigu, katamu, tidak merah dan tidak putih. Kamu lebih suka dengan warna-warna tegas, seperti hitam, merah, ataupun biru. Mungkin warna yang kamu sukai mencerminkan kepribadianmu yang tegas, tak mudah digoyahkan oleh apapun juga, bahkan oleh orang yang kamu cintai sekalipun. 

Saya tak pernah tahu kenapa sore hari itu kamu membeli sekumpulan balon berwarna merah muda. Saya masih ingat sore itu, sore yang cerah tak berawan, sore yang langka kita dapati di musim hujan, di mana hampir setiap sore hujan selalu turun membasahi bumi. Tapi saya tidak peduli apakah cuaca sedang cerah ataukah hujan, selama saya bersama kamu. 

Nov 21, 2011

Distance is a Test


Long distance relationship is not easy, but it is possible.


Membaca lini masa dan juga cerita beberapa teman mengenai LDR mereka, membuat saya terkenang akan beberapa LDR yang pernah saya jalani dulu. Ternyata, setelah dipikir-pikir, saya cukup akrab dengan mahluk bernama LDR ini. Bahkan sampai sekarang pun LDR ini masih saya jalani hubungan dan entah kapan kami bisa bersama lagi tanpa terpisah jarak. Yah walaupun sebenarnya jarak di antara kita tidaklah sejauh itu, hanya 2 jam perjalanan saja dan kami pun bisa bertemu. Tapi tetap saja, di antara waktu 2 jam itu, begitu banyak hal yang mungkin terjadi dan begitu banyak jalan yang harus dipilih yang bisa jadi membawa kami lebih dekat atau malah menjauhkan kami. 

Ujung-ujungnya, semua cerita dan kisah itu membuat saya mengingat-ingat kenapa hubungan saya yang dulu itu tidak berhasil. Dulu rasanya cinta bisa mengalahkan segalanya, termasuk jarak. Tapi tetap saja buktinya hubungan itu tidaklah langgeng.


Apr 10, 2011

Happy 2nd Wedding Anniversary

It's been lovely 2 years of being a married woman. We've gone through happy moments and also sad and angry ones, we passed jagged rocks along the way but also beautiful rainbows, we shed tears but also shared laughter, we spent so many nights a part but did as best as we can to snuggled next to each other as long as we can, we threw daggers at each other but also gave soothing balm to each other wounds, all in one, we've made it until today, 2 years of wedding, 4 years of courting, and more than 15 years of friendship. Love you, hubby -kiss-

Dec 8, 2008

Memenggal Pagi

Re, pagi lagi-lagi datang.

Malam kita berakhir sudah. Dingin menyergap ketika pelukanmu terurai. Merenggut hangat yang kukumpulkan detik demi detik malam kemarin. Perlahan tapak jiwamu menjauh, kembali pada titik keberadaan yang selalu terpisah. Adakah renik batinku masih lekat padamu? Ataukah ia sudah memburai terkena matahari? Hingga kapan pagi demi pagi terus pisahkan kita? Secercah demi secercah matahari perlahan membunuh kebersamaan kita.

Re, aku benci pagi.

Karena kau harus pergi ketika pagi menjelang. Kita berlompatan di antara dua waktu. Menyongsong pagi berarti tinggalkan waktu milik kita. Dan kita pun kembali pada dunia hitam putih. Ketika nyata tak lagi bertaburkan renjana. Dan hanya tempat tidur kosong di sini.Tanpa hangat badanmu dan aroma dirimu menemaniku. Yang ada hanyalah kekosongan tanpa warna.

Re, tinggallah bersamaku pagi ini.

Berapa banyak pagi sempat kita bagi? Di tengah jeratan rutinitas dan jarak demikian rumit. Hanya sekelumit pagi yang kita pernah cicipi berdua. Berpura-pura matahari masihlah bulan. Bergelung di antara selimut tebal, enggan beranjak dan kembali pada dunia. Lewatkan sarapan pagi, hanya untuk menyantap cinta kita. Ciptakan dunia hanya milik kita berdua. Dan pagi pun kembali menjelma malam.

Re, aku ingin malamku.

Hanya dalam gelapnya malam bersamamu kutemukan warna. Gemerlap silih berganti hiasi perpaduan kita. Tak terhitung warna berlompatan dalam arus gairah kita. Hingga akhirnya malam pun tak hanya pekat. Tertidur dalam pelukmu adalah candu. Membiusku dalam nyenyak yang penuh. Dan pada malam seperti itulah, aku semakin benci saat pagi mengetuk kesadaran kita.

Re, mari kita penggal pagi.

Hilangkan Ia dari waktu kita. Hingga hanya malam demi malam terajut menjadi satu. Sesekali senja menyelusup masuk, berbagi jingga dan semburat akhir hari. Namun malam tanpa pagi adalah hari tak berawal dan juga tak berakhir. Karena ada kau di sana. Menemani malamku.

Jadi, maukah kau membantuku memenggal pagi, Re?

 

Sep 6, 2008

Loving


Have you ever feel so proud of your love ones? Eventhough he/she's doing nothing. Only standing there and being him or herself. But the effect is still the same. Proud and love blended together. Remind you how much you love this lovely person and why it feel so right.

And you want to whisper: 'Have I told You lately that I Love You?'



Like now....

Jun 11, 2008

Perpisahan

Re, perpisahan itu semakin lama semakin menyakitkan.

Setiap kali kau berikan kecupan selamat tinggal, ada bagian hatiku sekarat menahan pedih. Sudah berapa kecupan kita bagi dalam rentang kebersamaan kita? Ratusan temu dan juga ratusan perpisahan. Berulang dan berulang. Memenggal hidup kita menjadi sepotong waktu kecil yang kita santap berdua, sebelum kita kembali pada menu hidup masing-masing.  Waktu kulalui bersamamu adalah kesekejapan belaka. Hanya setetes dari seteguk cinta yang kuharapkan. Haus aku akan dirimu. Lapar aku akan cintamu. Sungguh Re, tak ingin aku kembali lepaskanmu jelajahi jarak 127 km yang pisahkan kita. Jauh dariku.

”Bukankah ini resiko kita? Bercinta terpisahkan jarak?”

Aku tahu Re. Sungguh aku tahu resiko yang kutanggung. Sedari perjumpaan pertama kita di satu kota, dilanjutkan dengan perjumpaan kedua di kota yang lain. Kita jalani hidup yang berbeda, di kota yang berbeda, Re. Dengan mobilitas begitu tinggi. Hingga kita saling berkejaran dengan jarak dan waktu. Mencuri waktu di tengah kesibukan. Berlomba penuhi target agar dapat menyelipkan namamu, atau namaku, dalam agenda bulanan kita. Menjalin cerita berbataskan maya dan sambungan telepon. Tapi kini itu tak lagi cukup, Re. Kegelisahan ini tak pernah berhenti. Rindu tak jua putus. Dan tentu saja, sepi masih saja meraja. Kala hidup kita tak saling bersinggungan. Tak bisakah kita berdiam dan menetap?

”Aku masih membangun mimpiku, mimpi kita. Tak bisakah kau sabar menungguku?”

Mimpi adalah dirimu, Re. Aku mengenalmu ketika kau bermain dalam awan mimpi. Tak hendak turun menjejak nyata. Kau dengan mimpimu adalah satu. Dalam setiap perjumpaan kita, kau selalu bercerita tentang mimpi-mimpimu. Seperti halnya kubagi mimpi milikku. Hingga melebur semua menjadi mimpi kita. Terajut perlahan bersama kasih yang kita nikmati berdua. Terangkum bersama karya-karya Hollywood yang rajin kita sambangi. Di antara cita rasa berbagai masakan eksotik manjakan lidah kita. Juga di atas bantal tempat kita sandarkan lelah setelah seharian menyusuri kota. Kamarku penuh oleh mimpi yang kita bincangkan, Re. Tapi ada pula harga yang harus kita bayar. Mimpi itu letakkan jarak di antara kita.

”Apakah mimpiku terlalu sederhana, Re?” 
”Tak ada mimpi yang sederhana, Fee.”
”Apakah kau tahu mimpiku?”
”Bukankah sama dengan mimpiku?”

Mimpiku adalah pelengkap mimpimu, Re. Bukan sama dengan mimpimu. Kau melengkapi diriku, seperti halnya aku berharap diriku melengkapi dirimu. Kita berjalan sebagai dua lingkaran yang beririsan, namun bukan satu. Karena satu berarti penghilangan identitas yang lain. Dan aku tak dapat membiarkan diriku lebur dalam dirimu, seperti halnya aku tak akan merenggutmu dari hidupmu untuk bersatu dengan hidupku. Kita berbeda, tapi kita saling melengkapi. Begitu juga dengan mimpi-mimpi kita. 

”Berikan aku waktu.”

Waktu kini tak memihak kita, Re. Terlalu banyak detik terlalui tanpa pelukanmu. Masa berlari cepat, dan tanpa kita sadari bulan sudah berulang kembali. Bincang sunyi dengan tembok kamarku tak lagi tenangkan gejolak batinku.  Hujan yang kucinta pun terasa hambar tanpa percintaan kau dan aku di sela rintiknya. Malam sungguh dingin karena tak ada pelukmu. Aku merindukan seseorang tempat aku pulang, Re. Berbagi aksara dan juga cita. Tapi kau tak ada di sini. Gelenyar pedih ini terus bertambah, Re. Getir yang terasa pahit mendera inderaku. Bersama butiran air mata yang terus terurai. Jatuh berdebam seiring perpisahan demi perpisahan kita. Sakit ini masihlah akut, Re. Karena tak ada kau yang menjadi penawarnya. Apakah kau rasakan sakit ini juga, Re?

”Kamu terlalu egois, Fee.”

Ya.
Aku egois akan segala hal berkaitan denganmu.
Tapi b
ukankah keegoisan kita sama, Re?
Egois untuk bersama kala tubuh kita terpisah.
Dan perpisahan ini semakin lama semakin sakit.
Pulanglah, Re.
Padaku.

Jun 9, 2008

Addicted to Love

Saya rindu jatuh cinta

Menikmati rasa yang meledak dalam damba
Getaran manis merebak dalam  nadi

Rindu berbisik lirih di setiap detak waktu
Adrenalin menderas seiring gairah
Senyum simpul kala aksara bertera sang Dia
Jengah tersipu akan rayuan gombal
Malam yang terlalu sepi tanpa sapa Dia
Bosan timbul kala cerita tak sempat terjalin dengan Dia
Sekelumit amarah namun memperdalam ikatan
Hingga pada cemburu merangsek tak tentu arah



Mungkinkah jatuh cinta adalah candu?
Lalu apa yang terjadi ketika jatuh itu tak lagi jatuh
Melainkan sudah bertepi menjadi "di" dan "me"

Saya ingin jatuh
Tapi hanya pada tangan Dia
Yang selalu bersedia menangkap saya
Setiap kali saya terjatuh
(and its quite often)

May 15, 2008

Eternal Bride

Bulan merah seperti darah.

Sungguh malam yang indah untuk mati. Bukan termenung menanti kedatangan kekasih.

Kemudian cahaya merah bulan laksana memadat. Munculkan perlahan sesosok lelaki. Keberadaannya menyedot keriuhan, tinggalkan kehampaan hening.

”Menikahlah denganku” lirih bisikan sang lelaki.

“Apakah kau akan mencintaiku selamanya?” tanya sang gadis.

”Kaulah pengantin abadiku.”

”Kalau begitu, jadikan aku perempuan paling bahagia.”

”Aku mencintaimu.” desah sang lelaki, sebelum mencium sang gadis. Tepat di leher jenjangnya, di mana darah kehidupan mengalir kencang.

”Aku mencintaimu.” jawab sang gadis. Tepat sebelum taring tajam mengoyak nadi. Hisap jiwa menuju keabadian.

”Kau adalah milikku. Selamanya.”

Dan bulan pun semakin merah.

May 13, 2008

KupuKupu Merah dan Bulan


KupuKupu Merahku, aku rindu.

Ingatkah kau akan janji di mata badai? Akan kau bawakan cincin bermata bulan untukku. Jimat pengusir Minotaur.

”Mana yang kau inginkan: purnama ataukah bulan sabit?” tanyamu malam itu.
”Bulan sabit lebih memesonaku.”
”Bukankah orang lebih menginginkan purnama?”
”Purnama adalah akhir masaku. Awal ketika Minotaur terbangun.
Sedangkan bulan sabit adalah masa ketika kau datang.”
”Tidakkah kau merindukan purnama yang utuh, tanpa keterjagaan Minotaur?”
”Sudah kutemukan purnamaku.”
”Pada apa?”
”Pada masa ketika kau datang untuk menyempurnakan bulanku, hingga menjadi purnama.”

 
Tapi kini bulan sabit tetap tak utuh.
Kapan kau bawakan aku purnama itu lagi?
Aku rindu.  

Dec 27, 2007

Jejak Tubuh

Aku benci melihat alur jejak orang lain di tubuhmu.

“Bagaimana kau bisa melihatnya?” tanyamu.

Bagaimana bisa aku tak melihatnya? Jejak itu tertera jelas di mataku. Tidak, itu bukan jejak diriku yang haus jelajahi tubuhmu. Melainkan alur tertinggalkan oleh sosok asing. Partikel diriku musnah tertindas renik sesuatu yang lain. Keberadaannya lahap rindu tumbuh terlambat. Jejakku belum lagi mendingin ketika kau sambut kehangatan lain. Sementara beku masih mencengkramku erat.  Tak ada kau yang nyalakan gairah demikian panas.

Aku benci mencium aroma asing di tubuhmu.

“Wangi apa yang kau cium?” tanyamu.

Bukan aroma cinta kita yang kuhidu dari tubuhmu. Melainkan jarak begitu pekat. Terasa kepahitan akan waktu berbeda yang pisahkan kita. Saat ini hanya kucium sayup wangi keberadaan asing. Tak ada lagi gelora nafas berpadu hantarkan perpenuhan. Hanya samar euforia tertinggal. Bersama dekap asa yang terpisah. Masa terlewat begitu cepat, tenggelamkan kau dalam wangi berbeda yang tak kusuka. Dan aku masih saja mencari sisa keharuman tubuhmu dalam mimpiku.

Aku benci mengecap rasa yang lain di tubuhmu.

”Rasa apa yang kau rindu?” tanyamu.

Tidakkah kau rasa kesemuan mengambang di udara setelah usai percintaanmu? Tidakkah kau rindu manis percampuran kau dan aku? Kala tubuh kita masih menari, rasa dirimu adalah ambrosia pemacu hasrat. Berebut kuasai benak dengan berbagai sensasi menghanyutkan. Namun hanya getir yang kusesap keberadaannya kini. Masih dapatkah kau kecap rasa diriku, ketika beragam rasa berlomba serbu inderamu? 

Aku benci merasakan sentuhan tak bermakna.

”Makna apa yang kau cari?” tanyamu.

Keterikatan kita sudah lerai. Namun makna masih mengendap dalam jiwa. Kusimpan baik-baik fragmen kisah kita. Kini ia sudah reda memagut keberadaan. Namun lembut belaimu tetap terkenang. Menjadi peneman sepi kala lelap sendiri. Tak lagi kau tinggalkan lekuk di bantal di sampingku. Pun kecupan sarat oleh cinta. Hanya ada deretan kenikmatan kosong yang kau kejar tak tentu arah. Sungguh, kekosongan ini tak akan bisa terpenuhi.

Aku benci melihat tatapan tak berjiwa.

”Jiwa siapa yang ingin kau lihat?” tanyamu.

Bukankah dulu dapat kulihat pantulan jiwamu? Berkilau lembut dalam binar matamu. Terjerat aku dalam pesonanya. Pandangan itu selalu temani kebersamaan kita. Bersama hentakan rasa demikian tinggi. Merebut akal dan terbitkan candu.  Dalam deras percumbuan, dapatkah kau rasa jiwa kita bercinta kala tatap berpadu? Getar-getar indah merasuk kalbu. Sekarang jiwa siapa yang tercermin di matamu, ketika kau hanyut dalam episode-episode sesaatmu. Aku merindu jiwamu, tahukah kau?

Aku benci terperangkap di antara setengah.

”Lalu apa yang kau mau?” tanyamu.

Tak ada. Karena usai telah miliki kita.

”Tapi aku masih mencintaimu.” katamu.

Ya.
Bukankah kau bilang aku memiliki hatimu, bukan tubuhmu.
Lalu apa arti cinta itu?

Oct 8, 2007

Menunggu Hujan

Engkaukah yang datang bersama hujan ini?

Gerimis selalu sertai hadirmu. Seperti waktu-waktu lalu. Ingatkah kau pada masa hujan kerap basahi bumi? Kita larut menjalin asa. Percakapan di sela gemuruh petir. Bisikan di antara desau angin. Bercumbu kala jarum-jarum air menghujam. Temaram begitu memabukkan. Seperti keberadaanmu, lelaki hujanku.

 ” Sepertinya hujan mencintaimu.”  
” Sungguh? Seperti apakah cinta hujan itu?”
” Seperti cintaku.”
” Kalau begitu cintamu begitu dingin.”
” Maka hangatkanlah dengan cintamu.”

 Engkaukah yang datang bersama hujan ini?

Terasa rindu tak asing. Begitu akrab seperti harum tanah tertimpa percik hujan pertama. Tempias yang basahi relung hati. Ingatan berkeletik memburu fragmen kenangmu. Biarkan pecahan dirimu merasuk dalam batinku. Singgahi semua ruang bertera namamu.  Kuyup aku di tengah hujan ini.  Hujankah yang mengejarmu ataukah kau yang mencari hujan?

 ” Kau rindu hujan?”
” Ya. Seperti aku merindumu.”
” Cintailah hujan itu.”
” Seperti aku mencintaimu?”
” Ya. Seliar kau bersamaku.”

Engkaukah yang datang bersama hujan ini?

Kemari. Lama sudah tak kau cecap sisa hujan di bibirku. Pun tak pernah lagi kususuri jejak air di tubuhmu. Hujan kini begitu sepi. Ingin kuresapi basah hujanmu. Gigil mendekap sukma. Namun kering ini demikian membara. Rasakan butuhku. Gelisah tak tertahankan akan hujan. Terik berkepanjangan hingga meranggaskan asa. Kemaraumu menyiksaku, duhai lelaki hujanku.

”Apakah kau begitu menanti hujan?”
” Ya. Tentu saja.”
” Mengapa?”
“ Karena hujan bawakan dirimu.”
“ Akankah terus kau cari?”
“ Ya. “
“Ke mana?”
” Ke mana pun hujan meneteskan keberadaanmu.”

Engkaukah yang datang bersama hujan ini?

Aku masih menanti hujan.  Tapi tak ada kau di ujung rintiknya. Aku tak dapat meraihmu di balik tirainya. Berbisik cinta berbuih gairah. Pelukmu pun memudar seiring tetesan terakhir hujan. Tak lagi kutemui senyummu terpantul di genangan air. Tak kudapatkan sosokmu menari di bawah rinai hujan. Dirimu menghilang tinggalkan pilu. Duhai lelaki hujanku, cinta kini terburai dalam kemarau. Apakah kini kau berwujud kemarau demikian gersang?

 ” Aku bukan hujan.”
” Aku tahu itu.”
” Aku tak dapat selalu basahi kemaraumu.”
” Kemarau itu kau yang ciptakan.”
” Tapi aku bukanlah deras yang kau damba.”
” Lalu apakah kau?”
” Aku adalah musim yang salah. ”

Engkaukah yang datang bersama hujan ini?
Ataukah harus kunanti,
Hingga nanti langit berkenan hujankan adamu.
Lagi.

Sep 11, 2007

Journey

Jadi inilah perhentian waktu kita

Dan pencarian pun kembali dimulai
Jalan terjal penuh cobaan
Liku kehidupan tak terduga arah
Di antara titik cahaya tawarkan kehangatan
Juga pelukan penghibur sepi hati
Atau tawa mengundang ceria yang terlupa

Tapi pengembaraan ini belum juga usai
Berharap untuk pulang
Dan tinggal

 
# Lalu mengapa masih ada sekelumit pedih itu?

Jul 16, 2007

Coming home

Tunjukkan padaku, kemanakah pulang itu? Dimana bisa kucari rumah yang kau bangun untukku, untuk kita, untuk masa depan kita. Apakah masih berupa tanah kosong, sudah berfondasi, atau malah sudah megah dan berisi dengan segala furniture di dalamnya?

Jika tak lagi kau bisa tunjukkan kemana arahku, maka biarkan aku mencari arah pulangku sendiri. Karena aku sudah ingin beristirahat. Lelah ini demikian menderaku. Aku ingin duduk diam di balik jendela, memandangi hujan dengan secangkir hot chocolate. Sendiri pun tak mengapa namun jika ada peneman tentu lebih baik lagi.

Hanya saja, aku sudah ingin pulang sekarang. Berikan arahnya atau biarkan kuarungi jalan ini tanpamu.  Lalu mungkin kau akan temukan sendiri arahmu pulang.

Sekarang, marilah kita melihat kompas masing masing dan mencari, kemanakah pulang itu?

Apr 15, 2007

Fix Me










Can’t you
see?
I’ve lost
your presence
And I’ve
lost my path too

This
belonging feeling
Just
evaporated
Out to
the nothingness
Sink
deeper and deeper
To
nowhere land
Without
any light
To guide
me home
But light
is futile
When you
don’t have
The place
you called home



















Time
moves
But you
are still there
The ghost
in me
Don’t
fade
Lurking
In the depth
of my soul
And I
lost
Once
again



 

Apr 12, 2007

Rindu Hujan Rindu



Kekasih hujanku,









Hujankan rindu
ini
Hingga rintiknya
menabur sendu
Berjarak malam dan meruang senja









Hujankan rindu ini
Sampai basahnya merenggut resah
Berbatas angan dan menggoda mimpi









 Hujankan rindu ini
Hingga terasa begitu gigil
Deras basahi kering kalbu







Hujankan rindu ini
Kuyupkan sukmaku



# Dan kita bisa bermain hujan bersama lagi

Apr 9, 2007

Late Butterfly













Kupu
kupu itu kau
Kepak
sayap raba sisi hati
Terbang di antara kapiler darah
Jelajahi sel kelabu
Meledak bersama serotonin
Bombardir pori pori asaku















Kupu kupu itu kau
Tersirap matamu
Gilakan sadar
Akal terjungkal
Hingar mencandu
Desir sayapmu

















Kupu kupu itu kau
Culik kantuk
Lupakan mimpi
Hingga insomnia mengunyah malam
Pagi pun datang terlambat
Sibuk merajut jarak
Dan rumit memeta waktu



















Kupu
kupu itu kau
Bercinta
dengan sunyi
Silam
yang mewujud
Tertuju
pada gamang
Sulaman
nasib berbalik arah
Terseret
pasrah oleh hasrat
Ingkari
keterlepasan
Jika
rindu tak tuntas







# Kupu kupu itu kau
   Dan rinduku pun jelma kupu kupu



Apr 1, 2007

It was a beautiful nite


Malam terindah adalah
Ketika kita hitung rasi
Dan kau sangkutkan purnama di antaranya