Jun 9, 2008

Addicted to Love

Saya rindu jatuh cinta

Menikmati rasa yang meledak dalam damba
Getaran manis merebak dalam  nadi

Rindu berbisik lirih di setiap detak waktu
Adrenalin menderas seiring gairah
Senyum simpul kala aksara bertera sang Dia
Jengah tersipu akan rayuan gombal
Malam yang terlalu sepi tanpa sapa Dia
Bosan timbul kala cerita tak sempat terjalin dengan Dia
Sekelumit amarah namun memperdalam ikatan
Hingga pada cemburu merangsek tak tentu arah



Mungkinkah jatuh cinta adalah candu?
Lalu apa yang terjadi ketika jatuh itu tak lagi jatuh
Melainkan sudah bertepi menjadi "di" dan "me"

Saya ingin jatuh
Tapi hanya pada tangan Dia
Yang selalu bersedia menangkap saya
Setiap kali saya terjatuh
(and its quite often)

Jun 1, 2008

Speechless

Dont ask
For unknown answer

Dont wait
For unknown question

Dont hope
For unknown dream

Just

      Keep
Quiet

Just

      Keep
Alive



- Dissapointed -

May 28, 2008

Salak oh Salak

Sempatkah kau lihat salak di mejaku sebelum pertemuan kita?

Satu buah salak gemuk yang nampaknya nikmat. Terbayang olehku, akan kukupas sisik coklat tua itu. Singkapkan perlahan daging putih lembut di balik kerasnya lapisan yang menjaganya. Lalu akan kubersihkan membran halus tipis yang selimuti sang daging bagai kulit kedua. Barulah setelah itu kurasakan manis sepatnya daging salak. Hmm…sungguh nikmat.

Namun entah, setelah pertemuan denganmu, aku tak bernafsu lagi.

Oh salak itu tetap nampak menggiurkan. Masih menggodaku untuk menikmati dirinya.

Tapi tidak untuk kugigit dan kukunyah hingga lumat di dalam mulutku.

Melainkan untuk kulemparkan pada dirimu yang sungguh bawel, wahai bosku tercinta!

 

May 15, 2008

Eternal Bride

Bulan merah seperti darah.

Sungguh malam yang indah untuk mati. Bukan termenung menanti kedatangan kekasih.

Kemudian cahaya merah bulan laksana memadat. Munculkan perlahan sesosok lelaki. Keberadaannya menyedot keriuhan, tinggalkan kehampaan hening.

”Menikahlah denganku” lirih bisikan sang lelaki.

“Apakah kau akan mencintaiku selamanya?” tanya sang gadis.

”Kaulah pengantin abadiku.”

”Kalau begitu, jadikan aku perempuan paling bahagia.”

”Aku mencintaimu.” desah sang lelaki, sebelum mencium sang gadis. Tepat di leher jenjangnya, di mana darah kehidupan mengalir kencang.

”Aku mencintaimu.” jawab sang gadis. Tepat sebelum taring tajam mengoyak nadi. Hisap jiwa menuju keabadian.

”Kau adalah milikku. Selamanya.”

Dan bulan pun semakin merah.

May 13, 2008

KupuKupu Merah dan Bulan


KupuKupu Merahku, aku rindu.

Ingatkah kau akan janji di mata badai? Akan kau bawakan cincin bermata bulan untukku. Jimat pengusir Minotaur.

”Mana yang kau inginkan: purnama ataukah bulan sabit?” tanyamu malam itu.
”Bulan sabit lebih memesonaku.”
”Bukankah orang lebih menginginkan purnama?”
”Purnama adalah akhir masaku. Awal ketika Minotaur terbangun.
Sedangkan bulan sabit adalah masa ketika kau datang.”
”Tidakkah kau merindukan purnama yang utuh, tanpa keterjagaan Minotaur?”
”Sudah kutemukan purnamaku.”
”Pada apa?”
”Pada masa ketika kau datang untuk menyempurnakan bulanku, hingga menjadi purnama.”

 
Tapi kini bulan sabit tetap tak utuh.
Kapan kau bawakan aku purnama itu lagi?
Aku rindu.  

Apr 16, 2008

Jadi (lagi)








Ada masa ketika keinginan itu tertidur dalam senyap
Membisu dan acuh pada segala romantika berpusing di sekitarnya

Lalu Kau datang 

Menggelitik keberadaannya
Bangkitkan rindu demikian menghunjam
Berikan makna akan satu dan dua
Antara aku, kau, dan kita.

Kini Ia bangun dengan kesadaran penuh
Menuntut ketercapaian tujuan yang kau tawarkan
Mendamba keberadaan yang benar ada

Namun,
Yang ada hanyala
h jalan panjang
Dan penantian

Ia pun kembali tertidur
Dan kukhawatirkan akan hilang

Jadi
Ikatlah dia sebelum dia lari
Atau mungkin sebenarnya kau tak sengaja membuatnya bangun?
 

Apr 6, 2008

Kecamuk


#1

Terlalu banyak mimpi  buruk menghampiri
Tentang ikatan yang terburai
Hantarkan sedih di antara lelap dan sadar
Apakah ini peringatan ataukah bawah sadar saya tengah memikirkan hal itu?
Atau mungkin saya yang terlalu berlebihan memaknainya?




#2
Rasa mengambang di antara nyata dan tidak
Menjadi biasa adalah maut
Dan keterbiasaan itu sekarang menjadi hampa
Lalu bagaimana agar isi itu kembali utuh?