Jul 13, 2019

Menalar Pedih


Aru, pedih itu ternyata masih ada. Tersisa di antara puing rumah yang kita tinggalkan. Rumah itu adalah milik kita, tapi bukan lagi menjadi tempat kita berteduh. Jalan pulang kita sudahlah berbeda, pun orang yang menunggu kita pulang. Hanya sesekali kita tengok rumah itu, tapi tak pernah kita bangun kembali. 

Aru, pedih ini begitu sakit. Setelah tertidur lebih dari satu dekade, dia terbangun mendengar kisahmu. Kata demi kata menghunjamkan luka. Menjelma carut yang mungkin tak akan hilang. Namun tetes air mata tak bisa lagi kutumpahkan untukmu. Sudah tak ada hak milikku di sini, bahkan untuk sekedar singgah. Duka ini hanya bisa mengalir diam di relung hati. 

Aru, semoga pedih ini hanyalah sesaat. Kala ingat masihlah terasa manis. Tapi mungkin ingat itu juga yang meneteskan lara. Larut dalam aliran kisah. Euphoria akan masa yang telah usai dan asa yang telah berbeda. Menoreh luka di ujung hati.

Aru, sungguh pedih itu nyata. Tapi pedih ini adalah pedihku. Mungkin tak kau rasakan lagi pedih seperti ini. Lampau sudahlah lampau. Dan Kini sudah terlalu jauh untuk kita. Untuk apa lagi ada pedih? 

Aru, pedih ini adalah pedih untuk sisa keberadaan kita. Ilusi akan kenang yang dulu akrab. Sisa fragmen rasa yang lebur. Hancur terlanda badai bernama hidup. Kini hanya asing menjelma. Dan mungkin Aru adalah sekedar nama tanpa arti lagi. 

Sekarang, mari nikmati pedih bertepuk sebelah tangan ini. 

Selamat 20 tahun, Aru. 
12.07.2019

Jul 12, 2019

Mengenang Kini



Dear Lelaki Lampau,

Kini adalah masa yang terasa asing bagi kita. Begitu banyak fragmen yang tak pernah lagi kita jalani berdua. Jalan kita tak lagi bersilang, waktu pun tak lagi terangkai bersama. Hanya ada sekelumit malam yang kita curi untuk memperbincangkan kenang. 

Ya, hanya kenang yang menjadi milik kita. Kenang akan waktu begitu lampau. Kenang akan dunia begitu dekat. Kenang akan masa depan terburai ego. Kenang akan jalinan renjana terpecah duka. Kenang begitu manis dan membuat kita lupa akan pahit dan getir kala itu.

Waktu mengubah segalanya. Termasuk luka begitu pedih ataupun rasa begitu dalam. Debar itu masih ada namun ini mungkin hanyalah echo dari tempias rasa. Rindu itu pun mungkin hanyalah semu. Bias dari kenang yang masih terus ada. Kenang akan dirimu yang dulu, pun kenang akan aku yang bukan lagi seperti masa lalu. Kita sudah tumbuh menjadi dua orang yang berbeda, dengan hati yang berbeda juga. 

Kini adalah masa dewasa kita, dan esok mungkin tak lagi merekatkan kita.  

Salam,

Perempuan Kini
Untuk 20 tahun kita
10.07.2019


Jul 12, 2016

Dreaming a Little Dream


Ariadne: Why is it so important to dream? 
Cobb: Because, in my dreams we are together. (Inception, 2010) 

Dear Lelaki Mimpi,
Senyummu mulai pudar dari ingatanku. Pun aku tak lagi ingat akan detil wajahmu. Hanya ada rasa yang tertinggal dalam hatiku. Rasa yang sudah lama hilang dan tak pernah kusadari bahwa rasa itu kurindukan. Rasa yang menghangatkan jiwa dan memunculkan kenang akan mimpi. 

Waktu dalam dunia mimpi hanyalah sekejap. Tapi nyata menjadi kabur di dalamnya. Kucoba kembali padamu, pada senyum hangatmu, pada dunia lain yang kita arungi bersama; tapi mimpi itu mengalir pergi seiiring dengan waktu. Yang tersisa hanyalah ingatan akan mimpi yang begitu manis, hingga merasuk hingga ke alam nyata. 

Aku tak lagi ingat siapa dirimu di dalam mimpi itu. Hanya ada fragmen- fragmen yang mengingatkanku akan dirimu. Tapi senyum itu, senyum penuh cinta, tetap mengingatkanku akan dirimu. Namun fragmen itu pun mulai menghilang ditelan waktu.

Ingin aku mempertahankan rasa itu. Ingin aku tetap jatuh cinta pada senyum milikmu. Ingin aku kembali pada rengkuh cintamu yang begitu hangat. Tapi kau hanyalah mimpi, mimpi yang begitu indah hingga tak bisa segera terlupa dari ingatan. 

Dear Lelaki Mimpi,
Semoga suatu saat, senyum itu benar ada untukku di dunia nyata ini, dan aku tak lagi merindu cinta yang hanyalah ada di dalam mimpi. 

(13 Jul 2016, 3.43 AM) 

Nov 8, 2015

Hujan Yang Hilang

Dear Lelaki Hujan,

Mimpi kita sudah tak pernah lagi bertabur hujan, apalagi pelangi. Kita hanya menikmati tampias rasa yang jatuh di sisi bumi yang berbeda. Kita belumlah sempat menari di bawah hujan yang sama, sebelum angin membawa kita menjauh satu sama lain.

Rindu akan hujan itu ada, tapi tersembunyi di balik lipatan awan yang tak lagi dekat. Hanya sesekali rindu itu muncul, seperti layaknya petir yang sesekali menggoda  bumi. Tapi tak pernah rindu itu bergejolak membawa badai. 

Gerimis seringkali bisikkan namamu. Seperti juga gemeretak air menimpa tanah desahkan rasamu. Mungkinkah mata badai bawakan asaku padamu? Ataukah kini badai hanyalah sekedar badai untukmu. Sudah terlalu jauh jarak di antara kita untukku mengenali pikirmu. 

Kita adalah dua mahluk hujan yang tak pernah bersama. Hujan milik kita tak pernah membawa kuyup rasa untuk kita. Tapi entah mengapa ikatan ini tak pernah terputus. Ada gravitasi yang selalu membawaku kepadamu, pun dirimu yang berputar kembali kepadaku.

Hujan itu ada, tapi tak pernah basahi kita lagi.

Salam,

Perempuan Badai

Oct 26, 2015

Menjadi Ingat


Peri waktu tengah menggodaku lagi. 
Dirajutnya benang waktu yang dulu tak sempat terajut, pun tak sempurna terurai. Lilitan kenang membawa rasa yang tak asing, tapi sudah lama terlupa. Memunculkan fragmen ingatan usang di tengah kini. Ingat yang kini sulit kembali terlupa. 

Rindu pun ikut muncul. Sedikit tertatih karena lama terpendam. Rindu ini dulu ada, tapi tak pernah tumbuh besar. Hanya tunas kecil yang terhenti di pojok hati. Dia tetap ada di situ, tak tersentuh tapi juga tak terbuang. 

Rindu ini datang membawakan gelisah yang baru. Gelisah yang diam dan tersembunyi. Gelisah yang sibuk mencari makna di tengah sebaran kata dan cerita yang tak tertuju. Gelisah yang hanya membisu menanti ingat.

Peri waktu mungkin menggodaku. Tapi masa ini sudahlah terlewat. Begitu banyak jalan tak mengarah pada kita, tapi tak pernah juga utuh berpisah. Hanya sesekali jalan itu bersinggungan. Goreskan sisa renjana yang tak lagi semburat, hanya kembali menyisakan kenang. 

Sekarang, marilah kita tuntaskan waktu kita. Hingga peri waktu berkenan mengunjungiku lagi. Dan ingat pun kembali menjadi kenang. 



May 10, 2014

Rindu Akan Kenang



Dear Lelaki Lampau, 

Apa kabar? Lama sudah jalan kita tak bersilangan. Dunia terasa begitu luas di kota yang kecil ini. Tak pernah sekalipun kita bertemu di keramaian. Tapi tak apa, mungkin itulah jalan kita, tak lagi sejalan, seperti hati kita.

Jujur, sesungguhnya sudah lama kamu tak lagi muncul dalam radar benakku. Aku bukanlah lupa padamu, tetapi memang kita tak lagi dalam orbit yang sama. Aku pun yakin bahwa aku juga tak pernah lagi singgah di alam pikirmu, yang kini pasti telah penuh dengan momento baru. 

Tetapi terkadang ada momen-momen kecil yang tiba-tiba saja menarik ingatan tentangmu dari bilik memori yang sudah lama terkunci. Hanya sekejap saja ingatan itu muncul, namun ada gelitik rindu di dada. 

Lalu tiba-tiba saja kamu menghantam orbitku. Layaknya komet, kamu hanya muncul sekelebat, namun meninggalkan residu berkepanjangan. Bintangmu selalu bersinar begitu terang, dan mungkin itu salah satu alasanku untuk pergi membentuk galaksiku sendiri. Sulit untuk ada dua matahari dalam satu tata surya, dan aku tak mau salah satu dari kita menjelma menjadi lubang hitam. 

Ini hanyalah perjalanan menengok masa lampau, katamu.  

Lalu kamu  pun berlalu, kembali ke duniamu. 

Tak sadarkah kamu, bahwa residu kehadiranmu membangkitkan kenang? Melihatmu bagaikan melihat dunia yang bukan lagi duniaku, melainkan sesuatu yang asing tetapi begitu familiar. 

Aku tahu dan kamu pun tahu, tak ada lagi rasa di antara kita, bahkan rasa pedih sekalipun, yang dulu begitu akrab dengan kita. Tapi ada rindu tersembunyi di situ. Rindu akan masa lalu yang terlewat oleh keputusan kita sendiri. Rindu yang sarat oleh kenang, bukan lagi cinta. Rindu akan kemungkinan yang terjadi jika jalan kita masih bersisian. 

Terima kasih atas kehadiranmu. Kini marilah kita kembali ke dunia kita sendiri dan sekali lagi menutup lembaran lama ini, yang mungkin akan kita buka lagi beberapa tahun nanti, ketika rindu akan kenang itu muncul lagi. Karena bagaimanapun juga, aku dan kamu adalah yang pertama, dan tak ada yang pernah lupa akan cinta pertama mereka, walau tak lagi kerap muncul dalam ingatan.

Salam, 

Perempuan kini

Nov 23, 2012

Que Sera Sera


Ada perbedaan yang sangat mendasar dari prinsip "gimana nanti" dan "nanti gimana". Sebagai orang yang (tidak malu untuk mengakui) control freak, tentu saya menganut prinsip yang kedua. Sebisa mungkin saya merencanakan apa yang hendak saya lakukan. Ya rencananya tentu tidak sampai micro planning, tetapi minimal garis besarnya dan juga segudang back up jika rencana utama tidak berhasil. Saya butuh kepastian, bukan hanya janji di awang awang.

Tapi sungguh sulit menyatukan dua orang dengan dua prinsip yang bertolak belakang. Cara berpikir dan bertindaknya pun akan jauh berbeda, malah kadang jadi kontradiktif.
Yang menjadi masalah adalah ketika muncul masalah yang seharusnya bisa dihindari kalau saja prinsip kedua yang dipakai. Sayangnya, karena prinsip pertama sudah keburu diaplikasikan, maka mau membuat rencana apapun juga percuma. Sudah keburu gagal. Saya pun hanya bisa mengelus dada.

Terkadang saya juga capek untuk selalu siaga. Saya ingin sekali-kali menikmati apa yang diberikan oleh hidup begitu saja. Tanpa harus memikirkan "nantinya bagaimana?". But everytime I relinquish control to someone, disaster is prone to happen because of the recklessness of the people, that could be avoided if only they think about it first and making a plan.

Sekarang, saya masih memegang prinsip kedua. Tapi setelah runtutan kejadian demi kejadian, mau tak mau saya pun semakin akrab dengan prinsip pertama. Because when you cant do anything at all, you can only going with the flow and hoping that in the end, everything is gonna be okay.
Que sera sera. Whatever will be, will be.

Oct 29, 2012

Rindu yang Asing


Hey kamu! Ya kamu, orang yang tiba-tiba saja memunculkan rindu. Padahal sudah beribu malam kamu tak lagi mendiami benakku. Kamu hanya ingatan yang teronggok di sudut pikiran. Fragmen rasa yang terlupakan.

Tapi entah mengapa hari ini kamu muncul lagi. Bangkit dari alam kenangan. Membuatku rindu. Membuatku sendu. Membuatku ingin kembali mengenalmu, tidak hanya sekedar icon "friend" di dunia maya. Membuatku ingin menjadikanmu nyata, tak lagi hanya bayangan masa lalu.

Sudah berapa lama kita tak bercakap? Jangankan bertemu, berbicara pun tak pernah lagi. Ada beberapa momen dalam hidupku yang membuatku nyaris menggapaimu dari keterjauhan ini. Muncul keinginan sesaat untuk menautkan jalan hidup kita lagi. Setidaknya menjadikan kita kawan, bukan seorang asing. Tapi ingin hanyalah sekedar ingin, tanpa ada sentuhan nyata. Kamu dan aku benar sudah menjadi asing.

Rindu ini sporadis, dan entah darimana datangnya. Muncul bak hujan sesaat. Mungkin ada sepotong lagu yang mengingatkanku akan dirimu. Mungkin ada sekelebat momen yang mirip dengan yang pernah kita bagi.  Mungkin ada tanggal yang "keramat" bagimu. Seperti hari ini.

Satu hari ini biarlah aku merindumu. Rindu yang tulus dan tak lagi berembel cinta. Hanya sekedar rindu akan sesuatu yang telah hilang. Rindu akan asing.

Aug 2, 2012

Forgotten Birthday




It is sad that the person who once is very close to you now is no longer remembering you. Yes, you are successfully being forgotten by them. They don’t even bother to say happy birthday to you eventhough I’m sure there are so many way to do it not personally. Hey, in this digital world, everything is showed up for public eyes. Yes, they are still claimed to be your friends in all of your social networking, but they never stopped by to say even a simple hi.  You are just another name in their list of friends. 

Do you feel disappointed? In a way, yes, I’m a bit disappointed. Because those are people who were meant a world for me. And I was also meant a world for them (or so they said). Maybe the key word here is “was”. We are drifting a part, some of it in a nice way and some of it in a very bad way, even I don’t know the cause for some of it, we just contently being in our own world and no longer sharing our worlds. Now, we don’t even contact each other anymore, even just for “basa basi”. 

Basically, I’m just being mellow. A post birthday mellow, I would call. I remember those people who never acknowledge my presence anymore. I missed their “happy birthdays” because it’s a tiny sign that they are still care. I know that now we have a different path of life and might not be collided again. But a girl can have her wish, right? 

The funny thing, there is someone who suddenly showed up. An irregular presence yet always there in the background. Honestly. I’m surprised that this someone is the last one who still remembers me, given that we had quite strange relationship in the past. Yah, at least I know that somewhere, someone still remembering me. 

Dec 22, 2011

Some Songs are (mirror of my) Life

Terkadang ketika mendengarkan satu lagu tertentu, ada keping-keping kenangan yang menyusup masuk tanpa diundang. Memicu ingatan yang lama terkubur, yang membuat saya heran karena saya masih mengingatnya walau sudah entah berapa banyak tahun terlewati. Memang ingatan manusia sangatlah hebat, masih menyimpan segala detil kejadian selama masa hidup, tapi semua itu tidak membuat kita gila, karena ingatan-ingatan itu hanya muncul ketika kita ingin mengingatnya atau ada sesuatu yang memicunya (seperti lagu-lagu tertentu). 

Ingatan yang muncul diam-diam itu seringkali membuat saya tersenyum getir, karena kebanyakan dari lagu-lagu itu membawa rasa pahit manis alias bittersweet.  Mungkin pada suatu masa, kejadian yang terkait dengan lagu itu membawa saya terbang ke awang-awang. Dunia terasa Indah dan lagu itu membuatnya sempurna. Tetapi dengan berlalunya waktu, rasa manis itu perlahan memudar. Dunia tak lagi sempurna. Saya kembali menginjak bumi. My rose tinted glassed sudah terangkat. Yang tersisa adalah kenangan dan rasa itu: bittersweet.

Dec 20, 2011

The Boy You Can Talk About Everything



But now, talking to you is a rare treat, especially during weekdays. We just go on our separated ways and lifes.

Do we can only talk when we meet face to face? It is hard when you are talking (read: chatting) with all other people but me (in the sake of your job, you say). I’m afraid this lack of communication just separates us furthermore, despite the distance that always be our obstacle. 

Now, it is a common occurrence for not talking at all during the day, even for just saying hello how are you? It is also very common to not knowing what you have done or feels each day. All the emotions, the stories, the life, just buried under and sometimes, when we are remember of that part of the day, we will talk about it during week end. But it is only during weekend.

I don’t want to feel complacent without you by my side. I don’t want to feel that I’m okay with or without you; because what we are for if we no longer need each other? Then we just two people who meet during weekend.

We only shared our weekend life, not our life.

Nov 24, 2011

Balon Merah Muda


Setiap kali melihat balon berwarna merah muda, saya selalu teringat kamu. Padahal kamu paling benci dengan warna merah muda. Warna ambigu, katamu, tidak merah dan tidak putih. Kamu lebih suka dengan warna-warna tegas, seperti hitam, merah, ataupun biru. Mungkin warna yang kamu sukai mencerminkan kepribadianmu yang tegas, tak mudah digoyahkan oleh apapun juga, bahkan oleh orang yang kamu cintai sekalipun. 

Saya tak pernah tahu kenapa sore hari itu kamu membeli sekumpulan balon berwarna merah muda. Saya masih ingat sore itu, sore yang cerah tak berawan, sore yang langka kita dapati di musim hujan, di mana hampir setiap sore hujan selalu turun membasahi bumi. Tapi saya tidak peduli apakah cuaca sedang cerah ataukah hujan, selama saya bersama kamu. 

Nov 21, 2011

Distance is a Test


Long distance relationship is not easy, but it is possible.


Membaca lini masa dan juga cerita beberapa teman mengenai LDR mereka, membuat saya terkenang akan beberapa LDR yang pernah saya jalani dulu. Ternyata, setelah dipikir-pikir, saya cukup akrab dengan mahluk bernama LDR ini. Bahkan sampai sekarang pun LDR ini masih saya jalani hubungan dan entah kapan kami bisa bersama lagi tanpa terpisah jarak. Yah walaupun sebenarnya jarak di antara kita tidaklah sejauh itu, hanya 2 jam perjalanan saja dan kami pun bisa bertemu. Tapi tetap saja, di antara waktu 2 jam itu, begitu banyak hal yang mungkin terjadi dan begitu banyak jalan yang harus dipilih yang bisa jadi membawa kami lebih dekat atau malah menjauhkan kami. 

Ujung-ujungnya, semua cerita dan kisah itu membuat saya mengingat-ingat kenapa hubungan saya yang dulu itu tidak berhasil. Dulu rasanya cinta bisa mengalahkan segalanya, termasuk jarak. Tapi tetap saja buktinya hubungan itu tidaklah langgeng.


Sep 29, 2011

Hidden Heartbroken


A hidden heartbroken is a saddest thing.
Silent mourning. Invisible tears. Patched up wounds.  
A hidden heartbroken is a turbulence of emotions.
Pent up anger. Welled inside sadness. Façade of joy.
A hidden heartbroken is a plea of longing.
Can you see the dead behind those lighted up eyes?
Can you hear the whisper of misery behind all of those cheers?
Can you hear the splinters of the heart in a perfect harmony?
Maybe not.
Not now.
Not ever.


Sep 15, 2011

Cincin Emas

All is fair in war and love.

Sayangnya, tidaklah fair untuk bersaing dengan hantu. 

Bagaimana mungkin aku bersaing dengan kenangan yang berurat akar selama 11 tahun? Dengan segala gelak tawa, amarah, dan air mata yang pernah dibagi. Dengan kemesraan yang terjalin demikian erat. Dengan cinta yang tak juga lekang oleh waktu. 

Sudah tiga tahun berlalu. Tidak, bukannya aku mensyukuri kepergiannya, atau bahkan bersorak atas kehilanganmu. Aku masih ingat wajah bersimbah air matamu saat menatap dirinya yang terbujur kaku. Aku masih ingat saat senyum yang biasanya selalu menghiasi bibirmu menghilang seiring dengan tubuhnya yang semakin mendingin. Aku masih ingat wajah sendumu saat duduk terpekur menatap peti mati kekasih tercintamu. Semua itu membekas dalam ingatanku dan membuatku semakin mencintaimu. 



Sep 12, 2011

Immortal After Dark Series - Kresley Cole

Dari berbagai macam buku novel fantasy romance yang saya baca, seri ini masih tetap menjadi favorit pertama, terutama setelah sang pengarang konsisten dengan gaya bercerita dan juga plot yang menarik hingga buku ke 9 (atau buku ke 11 kalau dihitung dengan 2 short stories). 

Banyak sekali pengarang fantasy romance yang juga membuat seri tersendiri, sebut saja beberapa pengarang favorit saya juga (walau tidak sefavorit Kresley Cole) seperti JR Ward – Black Dagger Brotherhood (sempat menjadi favorit no 1 tapi setelah buku ke 4, plotnya mulai kurang menarik dan kurang greget), Lyndsay Sand – Argenau Family, Christine Feehan – Carpathian, Gena Showalter – Atlantis dan Lords of Underworld, dan juga Sherrlyn Kenyon – Dark Hunters. Kebiasaan yang sering muncul adalah setelah buku kesekian, dengan karakter kesekian, plot dari 1 buku ke buku lain mulai mengabur atau kadang tidak jelas. Selain itu gaya berceritanya menjadi semakin monoton, walau yah masih menarik untuk dibaca.


Sep 5, 2011

Kapan oh Kapan

Kapan?” Mungkin itulah kata tanya yang paling menyebalkan bagi saya. Celakanya, kata “kapan” itu pasti selalu wajib muncul di setiap masa Lebaran. Yah mungkin titik utamanya bukanlah Lebarannya, tetapi dalam pertemuan keluarga alias kumpul-kumpul yang pasti terjadi saat Lebaran. Bukankah Lebaran adalah waktu untuk bertemu dengan sanak saudara?
Nah “kapan” ini pertama kali muncul saat masih kuliah, dengan “Kapan lulus?”. Beruntunglah saya sudah kerja sebelum lulus, sehingga tidak sempat kena “Kapan kerja?”. Tapi sudah pasti setelah bekerja, yang ditanyakan adalah “Kapan nikah?” apalagi kalau sudah ada saudara yang menikah duluan alias “dilangkahi.” Setelah menikah, tentu saja yang ditanyakan adalah “Kapan hamil?” atau “kapan punya anak?” 

Aug 25, 2011

Brussels Spring Epicentrum Walk

Dulu, beberapa tahun yang lalu, Brussels Spring adalah salah satu cafe favorit saya di Bandung. Di mana lagi bisa mendapatkan aneka waffle dan pancake, dengan aneka topping yang menggugah selera, juga variasi makanan berat seperti pasta dan steak di tempat yang cozy dan asyik untuk nongkrong. Syukurlah sekitar setahun ini Brussel Springs membuka cabang entah franchise di Jakarta. 

Malam itu kami datang bertiga, dengan saya yang merasa cukup lapar berhubung ketika buka puasa hanya makan "sedikit saja". Jadilah saya sendiri yang memesan makanan berat sementara kedua teman saya memilih waffle. Atas rekomendasi Mas Waiter, saya memilih Raviolli Ala Brussels Spring (50K0, sementara teman saya memilih Strawberry Cheese Liege Waffle ( 37.5K) dan Strawberry Snow White Waffle with Vanilla Ice Cream (37.5K). Untuk minumnya, kami memilih menu "biasa" yaitu Ice Tea with Lychee (18K), Hot Lemon Tea (12K), dan Mineral Water (6K) saja. 

Sementara menunggu, kami sibuk menggagumi interior Brussels Spring yang cantik, dengan dominasi warna merah dan putih. Pintu masuknya ada di dua sisi yang saling membelakangi. Sisi depan berisikan etalase praline, cake, dan ice cream; sedangkan sisi belakangnya lebih didominasi oleh deretan meja  dan bangku. Meja di bagian belakang ini pun cukup unik, berupa meja kayu berwarna putih biasa, namun di dalam meja itu diletakkan miniatur2 barang2 (duh bingung namanya apa) yang mencerminkan sebuah dapur dan ruang makan, lengkap dengan  alat-alat pemanggang roti kecil, piring kecil, meja kecil, bahkan sampai ada miniatur roti dan selainya. Imut banget deh.

Jul 22, 2011

Demi Diskon

Diskon mungkin adalah kata yang disukai banyak orang. Tapi pengorbanan dari diskon ini terkadang sangatlah besar, dan syukurnya (atau sayangnya?) konsumen Indonesia adalah tipe yang rela berkorban demi diskon sekecil apapun. Lihat saja betapa ramainya mall pada saat acara Midnight Sale, Jakarta Great Sale, atau apapun yang berbau-bau sale. Lihat juga betapa banyak orang yang rela jauh-jauh ke berbagai merek Hypermarket demi mendapatkan barang yang lebih murah dibandingkan dengan toko di dekat rumahnya, walaupun mungkin jika dihitung dengan ongkos dan waktu yang dikeluarkan, sebenarnya jatuhnya sama saja.


Jul 20, 2011

[KUIS KUPUKUPU] Kupu-kupu Dalam Perut


“Kamu tahu arti kupu-kupu dalam perutku?”
Dadun terdiam, berpikir nampaknya, entah melamun. “Butterfly in my stomach.”
“Yeee itu sih terjemahannya. Gak menjawab pertanyaan ah.”  
 “Aku tidak tahu artinya, tapi ada kupu-kupu yang hidup dalam perutku saat ini. “
“Ah masa? Mana mungkin ada kupu-kupu hidup dalam perut?” Minie menatap Dadun tak percaya.
“Akan kutunjukkan besok. Biasanya kupu-kupu itu lebih terasa hidup ketika bertemu denganmu setelah berpisah.”
***
“Mana kupu-kupu dalam perutmu?” todong Minie keesokan harinya.
“Sini mendekat. Kepak sayapnya hanya terasa kalau kamu dekat-dekat aku.” Dadun menggamit tangan  kanan Minie, diletakkannya tangan Minie tepat di atas perutnya.
“Rasakan ada getar-getar kecil di sana.” Minie mengerutkan dahi. Tangannya mengelus-elus perut Dadun, mencoba merasakan getar sayap kupu-kupu.
“Yang ada hanya seperti detak jantung. Dag Dig Dug.”
“Itu getar sayap kupu-kupu dalam  perut.  Kalau mau merasakan detak jantung, bukan di situ. Harus lebih ke atas lagi.” Jelas Dadun sabar. Kali ini dia menggamit tangan kiri Minie dan meletakkannya tepat di atas dada kirinya.
“Coba kamu rasakan. Beda kan?”
Wajah Minie berubah menjadi takjub. “Iya!  Gerakannya berbeda. Detak eh kepak kupu-kupu dalam perutmu lebih cepat dibandingkan detak jantungmu.”
“Kubilang juga apa.”
“Sejak kapan ada kupu-kupu dalam perutmu?”
“Sejak aku ketemu kamu pertama kalinya, dua bulan lalu. Kamu ingat?”
Tentu saja Minie ingat. Dua bulan yang lalu mereka bertemu di taman ini, dan mereka tak bisa berhenti untuk tidak bertemu lagi, nyaris setiap hari, di taman ini juga.
“Kenapa kamu bertanya tentang kupu-kupu dalam perut?” kali ini ganti Dadun bertanya.
“Karena aku membaca kalau kupu-kupu dalam perutnya adalah salah satu tanda jatuh cinta.”
“Lalu apakah ada kupu-kupu juga dalam perutmu?”
Minie menggeleng sedih. “Aku tak pernah merasakan kepak sayap kupu-kupu dalam perutku.“
***